Seberapa Cukup Itu Cukup?

Satu malam beberapa bulan lalu.
Suami bingung lihat slip atm, dan dia bilang: “gile, gajiku ini udah kebanyakan!”
“Aku harus ngadep Pak Bos, bener ga ini gajinya jadi segini gede? Kalau memang iya, berarti porsi kerjaku kurang banyak, harus minta kerjaan yg lebih berat lagi”

Hhhhng, saya cuman manggut-manggut.
Lalu menghalangi niatnya untuk ngadep Pak Bos.
Gausah jadi pahlawan kesiangan saya pikir.
Mungkin memang wajar standar gaji jaman sekarang segede itu?
Entahlah saya ga ngerti standar gaji.
Tapi mengingat arsitek-arsitek di perusahaan suami ini banyak diminati dan dibajak sama konsultan lain, mungkin itu yang membuat perusahaan berusaha meng-keep arsiteknya.
Oke, suami ga jadi ngadep.

Akhir bulan lalu, kebijakan di kantor suami berubah.
Ga bisa lembur seenaknya, ga bisa cari duit seenaknya.
Secara finansial akan berpengaruh besar ke tiap kantong karyawan.
Oke tenang. “Perlu protes?” suami bilang begitu.
Saya bilang: “Nope! Buat apa?”
Saya pikir, toh tanpa lembur pun gaji itu sudah lebih dari cukup.

Suatu saat, kami sempat berkomunikasi santai dengan Pak Bos dan lalu nyangkutlah jadi membicarakan mengenai ini.
(karena dulu saya bekerja di perusahaan yang sama, jadi saya juga mengenalnya dengan baik)

Yang saya ingat pesannya:
Kalian mengalami kekurangan dengan kebijakan dan gaji kalian yang sekarang?
Asal kalian tahu, berapa gaji direktur di perusahaan konsultan di Jakarta?
Gaji kalian hanya satu titik di bawah itu!
Jika kalian lembur dengan jam optimal, bahkan gaji kalian bisa dua kali lipatnya!
Masih kurang?
Yang tak pernah orang-orang sampai sekarang bisa jawab itu: seberapa cukup itu cukup?

Rumah Ga Nyangka (3)

Nebeng update rumahnya ya guys (lho ini blog blog siapa)
Sudah jadi seperti ini ketika minggu lalu kami jengukin :

Minggu ini kami tidak menjenguknya, karena pak tukang sedang libur empat hari untuk Hari Raya Nyepi. Semoga akhir bulan April kami sudah bisa pindahan, biar irit ga bayar duit kos lagi.

Uncomplain Relationship

Kemarin itu Hari Raya Nyepi. Saya yang nebeng tinggal di Bali ini jadi tak sengaja ikut merasakan. Bangun pagi kesiangan, jadi namanya bangun siang dong. Siapkan bahan untuk makan siang dan makan malam sekaligus, goreng aja ikan tengiri yang udah disiapkan di kulkas, gampang, lalu mandi daaaan… glundung-glundung lagi. Ckckck, kebiasaan.

Malamnya, ketika sudah mulai gelap, kami menyegerakan untuk makan malam biar masih ada sedikit cahaya tanpa menyalakan lampu. Begitu semua beres, setelah bersih-bersih, kami jadi bingung mau ngapain. Semua siaran TV hilang selama 24 jam hari itu. Kalau dipikir-pikir, hebat ya Bali.

Jadi akhirnya ngapain?

Karena gelap, dan diluar hujan ga berhenti-henti, jadilah kami rebahan yang ujung-ujungnya glundung-glundung juga sih. Trus lama-lama jadi cerita-cerita. Cerita dimulai dengan… cerita semasa kecil, ada yang lucu, ada yang haru. Lalu, berlanjut, nyangkut-nyangkut deh ke jaman pedekate!

Malam itu akhirnya saya mengakui alasan kenapa saya bisa suka sama doski, dimana sebelumnya saya gengsi banget loh ngakuin poin-poin ini :

  1. Karena dia cowok banget. Saya suka sama tipikal yang cowok banget yang suka kegiatan olahraga, pecinta alam, musik. And he loves those activities. (sayang malam itu gelap, pasti kepalanya membesar)
  2. Karena dia baik dan terlihat dewasa dan suka anak kecil.
  3. Karena dia ga pelit. Bukan maksudnya saya matre sih, tapi melihat cowok yang insist bayarin waktu kita jalan atau makan atau nonton itu bikin seneng, seolah dia sanggup memenuhi kebutuhan kita nantinya, haha, kesimpulan yang pendek, tapiii, ya begitulah. Jujur saya ga pernah minta apapun dari dia selama kami pacaran, karena saya sadar itu belum jadi tanggung jawabnya. Tapi kalau dia nawarin, ya ga ditolak, hihihi :p
  4. Karena dia tau kapan saatnya harus mengalah dan kapan saatnya harus marah.
  5. Karena kami punya selera yang sama soal relationship. Hal ini baru disadari setelah beberapa bulan pacaran, bahkan sampai semalam pun kami baru menemukan beberapa hal yang sama lagi.

Selera yang sama soal relationship, itu seperti apa?

Sederhana saja :

Saya tidak suka punya cowok yang terlalu dekat bergaul dengan teman-teman ceweknya atau punya sahabat cewek, dia juga.

Saya selalu memprioritaskan waktu bersama, dia juga.

Saya selalu sedih ketika ada waktu have fun dengan teman-teman sementara dia nun jauh disana dan ga bisa ikut merasakan senang-senang bareng, dia juga.

Saya tidak suka panggilan sayang seperti beib, hun, eeeehhh… dia juga loh!

Selera yang sama seperti itu yang membuat kami jarang saling komplain. Selera yang sama seperti itu pula yang membuat kami jarang ngambek-ngambekan. Bahkan semalam kami masih menemukan kesamaan lagi, kami ini tipe orang yang betah di rumah. Kami sama-sama merasa rumah tempat yang paling nyaman. Rumah tempat yang paling bikin seneng ketika tempat-tempat lain kadang bikin kami terpuruk. Sayang rumahnya belum jadi ya.

Sebulan lagi semoga kami bisa merasakannya :)

Cuma

Sekarang harus mulai berhati-hati dalam mengucapkan kata ‘cuma’. Suatu saat saya menyadari bahwa kata cuma itu artinya sangat relatif. Dan kalau kita bicara pada forum umum, sosial media, atau orang yang ga tepat, bisa jadi malah menyakitkan.

Kita lihat contoh kalimat berikut ini (jadi kayak guru Bahasa Indonesia aja) :

“Jadi, apartemen saya ini cukup kecil, CUMA 300 meter persegi, makanya saya harus mendesainnya biar terlihat lebih luas”

“Walaupun gaji saya CUMA 9 juta, saya sudah bersyukur, biarpun sesekali pengen juga pindah ke swasta ;p”

“Ya ampun, apa susahnya sih CUMA ngeluarin duit 3 juta aja?”

Helooooooo! Jangan ukur semua kemampuan dari diri kamu sendiri aja ya. Kata cuma dari ukuran kamu, bisa jadi itu sudah sangat sangat berlebih buat orang lain. Jangan suka mengeluh dan memamerkan keadaan yang kamu keluhkan, sementara orang lain (mungkin) masih bermimpi buat bisa berada di keadaan seperti kamu. No offense ya, cuma menemukan beberapa fakta dan menyimpulkan sendiri, yang mau protes dipersilahkan :)

Family Man

Lagi beberes baju dan masukin ke koper buat bekal suami yang berangkat perjalanan dinas besok, uhmmm, kok jadi sedih. Ditinggal dua hari aja sih, tapi pengennya langsung di-skip aja itu hari rabu-kamis-jumat siang, pengennya langsung jumat malam.

Berasa banget kalau lagi sendirian. Bukannya karena sekarang saya jadi manja dan ga mandiri, tapiii… kebiasaan setiap harinya yang bikin kami masing-masing ga bisa jauh-jauhan. Bagaimana tidak, selama hampir delapan bulan menikah, dan selama itu pula bekerja di kantor yang berbeda, setiap jam makan, makan siang maupun malam, kami selalu menyempatkan makan bareng, hampir selalu. Kadang suami jemput ke kantor saya lalu makan di luar, atau kalau saya sudah masak biasanya ketemu di kosan.

Suami juga selalu mengutamakan waktu buat di rumah. Walaupun lagi deadline dan perlu lembur sampai pagi, jam enam sore dia sempatkan pulang dulu, makan malam bareng, ngobrol-ngobrol, menjelang saya mau tidur dia baru berangkat lagi ke kantor dan lembur sampai pagi *mewek*. Ketika pulang dari lembur, mendapati saya sudah tidur, dia pasti mencium kening saya dulu, baru mulai rebahan dan tidur.

Suami juga bukan tipe pria yang gemar foya-foya untuk hobi (setidaknya setelah menikah ini :p). Dia suka bola. Dia seorang Manchester United sejati. Dulu dia sering beli baju bola, yang harus original, yang harus beli di counter Nike. Dulu dia hobi mengoleksi sepatu olahraga: sepatu lari sebiji, sepatu badminton sebiji, sepatu futsal sebiji, ditambah sepatu kondangan, oh nooo. Sekarang? Hampir ga pernah beli lagi barang-barang itu, walaupun saya tau dia sangat ingin, dan jadinya saya yang mengusahakan membelikan ketika dia ulang tahun.

Suami juga bukan tipe pria yang suka dengan segala gadget mahal. Ketika jaman sekarang semua berlomba membeli iphone atau android dengan layar sentuh, dia masih setia memakai handphone monophonic dan monotone, tidak berwarna-warni, tidak mungkin bisa untuk update status facebook. Saya jadi malu sendiri kalau masih minta ganti handphone.

Suami juga bukan tipe egois. Apa-apa dia selalu ingat istrinya. Siang-siang panas pengen beli es teler, mending dia belinya sekalian pulang kerja, beli dua gelas buat diminum bareng di kos sambil nonton spongebob. Hujan-hujan, kalau saya bilang nitip beliin jamur crispy pas dia lagi badminton, dia akan menunggu sampai hujan reda (entah berteduh di mana), pokoknya dia akan pulang bawa jamur crispy, padahal saya udah meng-sms langsung pulang aja dan jangan maksain.

Suami juga bukan tipe yang selalu menuntut. Saya ga jago masak. Kadang malah malas masak. Yang peling sering ya masakannya ga enak. Tapi dia masih tetap mau makan masakan saya, sampai habis :’). Dia juga ga menuntut untuk selalu disediain sarapan di setiap pagi, karena melihat saya sering gedubrakan ketika mau berangkat kerja. Dia juga selalu membantu pekerjaan rumah. Karena masakan suami lebih enak, kalau akhir minggu dia giliran masak, dan saya mencuci baju. Berhubung masih di kosan, jarak kamar mandi dan dapur yang bersebalahan, sambil masak dan mencuci baju kami pun masih bisa disambi cerita-cerita dan mendapatkan cukup quality time.

Suami juga merasa tidak perlu memamerkan ucapan sayang ke istrinya dalam kesehariannya dengan menyebut-nyebut di media sosial. Berbalas kemesraan dan berdialog dengan pasangan di facebook? Aaaargh, that’s not truly him.

Oiya lupa, dia selalu menyanyikan lagu-lagu cinta dengan semangat ketika karaoke cuma berdua, kalau karaoke rame bersama teman-teman dia memilih menyanyikan lagu rock en roll atau malah bungkam ga mau nyanyi sama sekali.

Dia seperti papa saya. He is such a family man. :*

(ps: sayang, aku mau dibawain oleh-oleh ya! :p)

Cemen :p

Iya, saya kok jadi cemen.

Tapi suami malah senang kalau saya jadi cemen, biar ga jadi (sok) berani kayak dulu lagi, kemana-mana sendiri, malam-malam pun berani nyetir motor sendiri dari sanur-seminyak-sanur.

Itu dulu, ketika saya masih single.

Lha sekarang? Kalau malam harus keluar sendiri, paling banter cuma berani ke supermarket Pandeputri, itu jaraknya cuman setengah kilometer dari kosan. Deket. Lalu, apa kabar kalau suami lagi lembur? Yasudah, saya ndekem di kos saja, ga berani kemana-mana. Suka kaget juga kalau lagi sendirian di kos dan ada telepon dengan nomor asing, pasti ga saya angkat, takut itu orang jahat.

Bulan lalu misalnya, ketika ditinggal suami dinas ke China, provider XL lagi eror (nyebahi!). Alhasil saya ga bisa menghubungi, sms suami bisa masuk tapi saya ga bisa balas. Koneksi internet juga sama saja erornya. Hasilnya yang di sana panik. Suami menelpon pakai telpon hotel, sedang saya di sini sudah tidur lelap, haha. Kaget ada bunyi telpon, melekin mata seadanya, lihat nomer asing di layar ponsel, langsung saya reject. *dudul*. Setelah melekin mata rada niat, baru sadar nomernya kok bukan +62, hwaaa, iki mesti bojoku nggoleki aku. Si suami untungnya kepikiran sms mama di jogja, hasilnya, udah saya dimarahin suami, dimarahin juga sama mama, huhu.

Lusa ini suami berangkat dinas lagi nih ke tempat yang sama. Untung cuma dua hari. Sebaiknya saya mulai dari sekarang persiapkan bahan makanan biar ga usah keluar malam-malam. Segitunya. :P

Rumah Ga Nyangka (2)

Sudah hampir empat bulan dari Rumah Ga Nyangka ini dibangun, tapi masih belum jadi jua. Pihak developer sebenernya janjiin tiga bulan untuk proses konstruksi, yang artinya februari ini harusnya kami bisa pindahan. Tapi apa daya, ada diselingi musim hujan di akhir tahun kemarin, akibatnya para tukang ga bisa bekerja maksimal. Lagian masa mau nyalahin hujan sih? Hujan kan juga rejeki :)

Ya sudah, tak apa.

Saking senengnya lihat perkembangan rumah ya, tiap sabtu pagi sudah jadi ritual kami untuk menjenguk. Bangun pagi, sarapan ke warung kkn, lalu lanjut jengukin si rumah. Berhubung saya yang (lagi-lagi) malas buka wordpress, makanya baru sekarang di-update gambar perkembangan rumahnya, buat dokumen pribadi saja, buat kenang-kenangan :)

dinding mulai disusun

bagian belakang rumah kalau diintip dari halaman belakang punya tetangga :p

Dua gambar diatas serasa nyenengin banget yah ambience-nya, cuaca bali pas lagi cerah, langit biruuu, love it! <3

Beberapa minggu kemudian, taraaa:

dindingnya sudah sampai balok atas, yay!

Beberapa minggu kemudian (udah ga ingat ini minggu ke berapa) :

sudah ada leher penyangga atapnya :D

halaman belakang rumah :)

Hyak, sementara ternyata hanya itu yang tercatat di kamera poket yang setiap hari saya bawa ini. Sekarang harusnya sudah pasang genteng, dan benerin beberapa titik power listrik yang perletakannya salah ga sesuai denah dari kami. Semoga cepat jadi, aamiin! Karena tetangga sebelah di kosan ini cukup berisik, walaupun saya senang sih sama anaknya yang baru enam tahun dan cantik, namanya Chealsea :D

 

Banyuwangi

Apa yang masih kamu sombongkan?
Hak hidupmu bisa ditarik kapan saja kalau memang Allah mau.
Siap atau tidak siap.

Mau kamu kantongi di mana apa-apa yang kamu sombongkan itu?
Miris. Tapi banyak nilai yang bisa dipetik.
Allah mungkin memperingatkan kita dari kejadian di sekeliling.
Termasuk hari itu.
Ketika seorang sahabat harus kehilangan suaminya dalam sekejapan mata.
Shocked!

(dalam perjalanan takziah Denpasar-Banyuwangi-Denpasar hanya dalam dua belas jam – Senin 7 November 2011)

Rumah Ga Nyangka

Ini mimpi yang jadi kenyataan!
Ga terbayang bisa beli rumah sendiri eh bersama suami maksudnya.
Walaupun masih dengan KPR, tapi setidaknya sudah membuat keputusan yang besar untuk keluarga kecil ini.
Rumah ada di kawasan Kertadalem, Sanur.
Luasnya ga seberapa, cuma 108 meter persegi, tapi itu cukup.
Mulai dibangun 26 Oktober kemarin, dan ini hasilnya di minggu pertama: pondasi. :D


Alhamdulillah ya Allah :)

Movember!

I wanna move

I wanna move

I wanna move…  for a better way…

Would you?
(di pagi hari ini, curhat dengan Tuhan di sepanjang jalan)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.