Lagi beberes baju dan masukin ke koper buat bekal suami yang berangkat perjalanan dinas besok, uhmmm, kok jadi sedih. Ditinggal dua hari aja sih, tapi pengennya langsung di-skip aja itu hari rabu-kamis-jumat siang, pengennya langsung jumat malam.
Berasa banget kalau lagi sendirian. Bukannya karena sekarang saya jadi manja dan ga mandiri, tapiii… kebiasaan setiap harinya yang bikin kami masing-masing ga bisa jauh-jauhan. Bagaimana tidak, selama hampir delapan bulan menikah, dan selama itu pula bekerja di kantor yang berbeda, setiap jam makan, makan siang maupun malam, kami selalu menyempatkan makan bareng, hampir selalu. Kadang suami jemput ke kantor saya lalu makan di luar, atau kalau saya sudah masak biasanya ketemu di kosan.
Suami juga selalu mengutamakan waktu buat di rumah. Walaupun lagi deadline dan perlu lembur sampai pagi, jam enam sore dia sempatkan pulang dulu, makan malam bareng, ngobrol-ngobrol, menjelang saya mau tidur dia baru berangkat lagi ke kantor dan lembur sampai pagi *mewek*. Ketika pulang dari lembur, mendapati saya sudah tidur, dia pasti mencium kening saya dulu, baru mulai rebahan dan tidur.
Suami juga bukan tipe pria yang gemar foya-foya untuk hobi (setidaknya setelah menikah ini :p). Dia suka bola. Dia seorang Manchester United sejati. Dulu dia sering beli baju bola, yang harus original, yang harus beli di counter Nike. Dulu dia hobi mengoleksi sepatu olahraga: sepatu lari sebiji, sepatu badminton sebiji, sepatu futsal sebiji, ditambah sepatu kondangan, oh nooo. Sekarang? Hampir ga pernah beli lagi barang-barang itu, walaupun saya tau dia sangat ingin, dan jadinya saya yang mengusahakan membelikan ketika dia ulang tahun.
Suami juga bukan tipe pria yang suka dengan segala gadget mahal. Ketika jaman sekarang semua berlomba membeli iphone atau android dengan layar sentuh, dia masih setia memakai handphone monophonic dan monotone, tidak berwarna-warni, tidak mungkin bisa untuk update status facebook. Saya jadi malu sendiri kalau masih minta ganti handphone.
Suami juga bukan tipe egois. Apa-apa dia selalu ingat istrinya. Siang-siang panas pengen beli es teler, mending dia belinya sekalian pulang kerja, beli dua gelas buat diminum bareng di kos sambil nonton spongebob. Hujan-hujan, kalau saya bilang nitip beliin jamur crispy pas dia lagi badminton, dia akan menunggu sampai hujan reda (entah berteduh di mana), pokoknya dia akan pulang bawa jamur crispy, padahal saya udah meng-sms langsung pulang aja dan jangan maksain.
Suami juga bukan tipe yang selalu menuntut. Saya ga jago masak. Kadang malah malas masak. Yang peling sering ya masakannya ga enak. Tapi dia masih tetap mau makan masakan saya, sampai habis :’). Dia juga ga menuntut untuk selalu disediain sarapan di setiap pagi, karena melihat saya sering gedubrakan ketika mau berangkat kerja. Dia juga selalu membantu pekerjaan rumah. Karena masakan suami lebih enak, kalau akhir minggu dia giliran masak, dan saya mencuci baju. Berhubung masih di kosan, jarak kamar mandi dan dapur yang bersebalahan, sambil masak dan mencuci baju kami pun masih bisa disambi cerita-cerita dan mendapatkan cukup quality time.
Suami juga merasa tidak perlu memamerkan ucapan sayang ke istrinya dalam kesehariannya dengan menyebut-nyebut di media sosial. Berbalas kemesraan dan berdialog dengan pasangan di facebook? Aaaargh, that’s not truly him.
Oiya lupa, dia selalu menyanyikan lagu-lagu cinta dengan semangat ketika karaoke cuma berdua, kalau karaoke rame bersama teman-teman dia memilih menyanyikan lagu rock en roll atau malah bungkam ga mau nyanyi sama sekali.
Dia seperti papa saya. He is such a family man. :*
(ps: sayang, aku mau dibawain oleh-oleh ya! :p)